Senin, 11 Juni 2012
Hujan lebat kian membasahi seluruh dedaunan yang ada di depan halaman bunga yang indah disana. Kupu-kupu yang suka menari, burung kecil yang bermain didepan halaman sambil menyanyikan lagu dunia, kini tak tampak disana. Karena mereka harus bersembunyi dan menghangatkan diri mereka dari dinginnya air yang diturunkan oleh sang Pencipta dengan segala nikmatNya yang diberikan . Begitu pula dengan aku. Aku yang sangat rentan sekali dengan air hujan, seakan membuat ku iri kepada mereka semua yang bisa bermain dan bercumbu dengan dinginnya air suci yang membasahi tubuh mereka sedang aku hanya dapat berdiri dan mengintip manusia yang berlalu lalang menyusuri depan rumahku sambil tertawa dan menari-nari bersama dengan jutaan tetes air. Suasana ini seakan mengingatkan aku pada hari esok yang mungkin tak bisa berjumpa lagi dengan mereka yang setiap hari menemaniku disetiap aku menunggu bis maupun disaat aku membuka mataku ini kepada dunia. Ya, besok aku harus pergi ke kota seberang tepatnya di Surabaya, untuk mencari lilin penerang ku agar aku bisa menyambung hidup orang tua ku. Meskipun orang tua ku adalah orang yang berpunya,aku tetap merasa miskin. Harta dan rumah bukan milikku,aku hanya menumpang kepada dua orang yang telah melahirkan dan membesarkan ku untuk dapat hidup dengan ilmu serta berpegang kepada al-Quran dan al-hadits. Keluargaku adalah orang yang dikenal dan disanjung-sanjung. Melihat kesuksesan ayah dan ibuku membuat aku menjadi termotivasi untuk terus mencari ilmu agar aku dapat berbagi dengan orang-orang yang ada disekitar ku. Aku adalah seorang wanita yang lemah dan tak punya apa-apa didunia,tanpa nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku. Teman-teman memanggilku dengan “Jannah” dengan nama lengkap Miftakhul jannah,tapi ada juga yang memanggilku dengan panggilan si mata cokelat. Tapi aku bukan orang luar negeri, aku adalah anak dari orang jawa tulent. Aku sangat bahagia dengan pemberian nama itu. Nama dengan arti “kunci surga” tersebut, membuat aku selalu didoakan agar tetap terus dilimpahkan perlindungan dari Allah SWT kepadaku. “Janah, Janah”, panggil ibuku dengan suara lembutnya. “Ada apa bu”, sahutku. “Kamu kenapa berdiri disitu?”,” apa sudah beres semua persiapan untuk hidup di Surabaya?”.Tanya ibuku lagi. “Sudah ibuku yang manis”, godaku. “Ya sudah kalau gitu, cepat tidur sana, dari sore kamu duduk disitu, apa ndak capek?”,tanya ibuku lagi. Insyaallah tidak buk, balasku. Bu, aku mau tanya, “jikalau aku nanti mulai merasa suka dengan seorang lelaki,lelaki yang bagaimana yang akan ibu restui”. Ibuku hanya tersenyum manis. “Kamu ini kenapa?katanya mau cari ilmu, tapi sekarang kok malah mau cari calon suami”. “Endak begitu bu,aku hanya tanya ibu saja”,jelasku. “Pokoknya kalau kriterianya, harus sholeh, bisa memenuhi kebutuhanmu, setia, bertanggung jawab, kerja keras,rajin, menyayangi ayah dan ibu dan tentunya mencintaimu dengan setulus hatinya”. “Bukan karena cinta dari paras atau kelebihan dirimu nak?”. “Ibu tidak mau engkau bersedih, cinta yang hanya mengandalkan paaras, ibu takut engkau ditinggalkan ketika engkau tua kelak, ibu tak mau nak. Dan satu hal lagi pesan ibu, di Surabaya nanti kamu sholatnya yang rajin, baca alquran, beri senyuman kepada temanmu, sambung banyak silaturahmi dan jangan mencari musuh”. “Kamu ngertikan nak”, Tanya ibuku kepadaku. Air mataku tak tertahan dan menetes membasahi pipiku. Aku kemudian memeluk ibu sambil berkata, iya bu aku mengerti, aku sayang ibu dan ayah. Dari sudut tembok lain kulihat ayah yang pulang dari kantor terdiam dan tertunduk melihat aku dan ibu menangis. Ya, mereka mungkin merasa kesepian dengan kepergian ku, setelah adikku dikirim ke Belanda untuk belajaar disana. Mereka adalah harta yang terindah yang aku miliki. to be continue..